Goresan Tangan Seorang Mahasiswa untuk Mahasiswa



              “Saya adalah Mahasiswa, Menulis tentang Mahasiswa dari sudut pandang Mahasiswa,
     Agar dibaca oleh Mahasiswa” (Millati Izzatillah)



Kata “Mahasiswa” mempunyai keistimewaan yang begitu besar,yang mana terdiri dari dua kata yaitu “Maha” dan “Siswa”. Jika di lihat dari maknanya, Mahasiswa adalah siswa yang memilki kedudukan tertinggi. Seseorang yang menyandang predikat mahasiswa berarti adalah seseorang yang harus mempersiapkan kehidupannya. Remaja, semua orang akan melewati masa ini, masa dimana sering disebut masa-masa yang paling indah buat setiap orang. Karena sudah mulai mengerti apa itu hidup akan tetapi belum merasa tanggung jawab, hanya mencari pengalaman yang menyenangkan. Mahasiswa bukan lagi remaja, bukan lagi seorang yang masih labil dalam penentuan hidup. Mahasiswa adalah golongan yang menuju tahap kedewasaan yang telah memilki identitas diri. Identitas diri yang dimaksud yaitu mengerti seperti apa diri kita, persiapan apa yang akan kita lakukan dan memilih arah kemana kita akan membawa diri kita.



Pencarian identitas diri adalah masalah untuk mahasiswa. Karena belum setiap mahasiswa mendapatkan identitasnya. Dikatakan belum memiliki identitas diri,  dapat dilihat dari perilaku keseharian kita seperti berikut;
Masih banyak dari sebagian kita bolos dari jadwal kuliah. Coba jika kita renungkan, Mengapa hal ini terjadi, padahal kita tau itu salah. Sebagai seseorang yang dewasa harusnya bisa membedakan mana yang salah dan mana yang benar, dan tidak melakukan sesuatu yang kita tahu itu adalah hal yang salah. Hal ini yang akan merugikan diri kita sendiri. Kita yang memilih untuk melanjutkan pendidikan, kita pula yang memilih jurusannya, dan ini merupakan jenjang terakhir kita di pendidikan formal, sebelum menginjak kehidupan yang sesunguhnya. Kehidupan yang membutuhkan tanggung jawab dan keseriusan.

Masih banyak diantara kita yang tidak bisa membaca peraturan. Peraturan dibuat bukan untuk dilanggar. Hidup tanpa aturan, manusia akan kacau berantakan. Misalnya, “Jangan menginjak rumput”, “Dilarang merokok di koridor kelas”, dan lain sebagainya. Ini merupakan peraturan tertulis, yang jelas kita bisa lihat dengan mata kita,jika yang tertulis saja kita abaikan  bagaimana dengan yang tidak tertulis.
Dan masih banyak lagi contoh yang lain, yang seharusnya kita tidak lakukan tetapi tetap saja kita lakukan, budaya seperti ini haruslah kita ubah, mulai dari diri kita masing-masing, mulai secara perlahan, dan mulailah dari saat ini.

Mahasiswa, yaitu kita,sebentar lagi kita akan menghadapi kehidupan yang sebenarnya, sejauh mana persiapan diri kita akan hal ini. Ini perlu ditanamkan dalam hati kita masing-masing. Mulai saat ini marilah kita (mahasiswa) memenej pikiran kita, atur pikiran kita, renungkan, mau seperti apa kita kelak, mau menuju kemana kita nanti, dan mau memilh jalan yang mana. Manusia memang cenderung malas dan acuh, akan tetapi budaya ini dapat kita ubah, mahasiswa yang memulai untuk mengubahnya, mencontohkan budaya baik, kreatif dan inovatif pada semua lapisan masyarakat, menjadi pionir bangsa dan akan meningkatkan kualitas negara Indonesia. Semangat perjuangan non fisik ada ditangan mahasiswa.



Pribadi yang baik akan membentuk keluarga yang baik. Keluarga yang baik akan membentuk masyarakat sekitarnya baik. Masyarakat yang baik akan membuat sebuah kota yang baik. Kota yang baik nantinya akan membuat negara yang baik. Dan pada akhirnya akan membuat dunia yang baik.

Comments

Popular posts from this blog

KONFLIK ANTARA DANONE AQUA DAN MASYARAKAT KLATEN-JAWA TENGAH